Rabu, 12 Januari 2011

Penelitian Etnografi


PENELITIAN ETNOGRAFI
I.                   Pendahuluan
Etnografi secara harfiah berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan selama sekian bulan atau sekian tahun (Marzali).
Penelitian lapangan merupakan ciri khas penelitian etnografi. Peneliti dalam beberapa hal bahkan melakukan proses enkulturasi dalam kegiatan penelitiannya. Ini berarti peneliti tidak sekadar mengajukan pertanyaan dan mengobservasi secara mendalam, namun seringkali ikut menikmati makanan, pakaian, budaya, kultur, dan kebudayaan-kebudayaan lainnya. Akibatnya tidak jarang karena begitu menikmati tugasnya, seorang peneliti etnografi malah lalai dengan aktivitas penelitiannya. 
Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer membuat kesimpulan budaya dari tiga sumber, yakni dari yang dikatakan orang, dari cara orang bertindak, dan dari berbagai artefak yang digunakan orang (Sradley: 2007). Meski begitu, banyak etnografer lebih mengedepankan unsur bahasa untuk mencari, menghasilkan, dan membuat deskripsi kesimpulannya. 
Etnografi memiliki beragam fungsi, selain mempelajari suatu masyarakat juga memberi sesuatu kepada masyarakat. Sebuah penelitian sepuluh tahun seorang etnografer, misalnya, yang meneliti metode pengobatan salah satu suku di negara bagian Amerika. Hasil penelitian etnografer berupa buku sepuluh jilid tersebut akhirnya berguna bagi kemajuan ilmu kedokteran modern saat ini. Selain penelitian tersebut, etnografi ternyata dimanfaatkan juga pada jaman politik aphartheid di Afrika Selatan.
Masih banyak ragam penelitian etnografi yang memiliki nilai guna bagi penelitinya maupun masyarakat yang ditelitinya. Untuk itu, pembahasan awal makalah ini akan dimulai dari sebuah pertanyaan ontologis. Apa itu etnografi, atau apa definisi dari etnografi?   

 II. Uraian Teoretis
1. Definisi Etnografi   
Etnografi baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian dapat dianggap sebagai dasar dan asal-usul ilmu antropologi. Jadi, belajar mengenai etnografi berarti belajar tentang jantung dari ilmu antropologi. Ciri khas dalam penelitian ini adalah sifatnya yang holistik-integratif dan analisis kualitatif (Spradley: 2007). Selain definisi yang telah dipaparkan di atas, ada beberapa defini lain yang diutarakan beberapa ahli, diantaranya sebagai berikut.
Kajian budaya etnografi merupakan penelitian yang menggunakan payung penelitian kualitatif, karena dasar kajiannya tentang nilai dan makna dalam konteks ‘keseluruhan cara hidup’. Karena merupakan kajian budaya, etnografi menjadi wakil beberapa metode kualitatif, termasuk pengamatan pelibatan, wawancara mendalam dan kelompok diskusi terarah.
Penelitian kualitatif sebagai payung metode penelitian etnografi  adalah penelitian yang ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. Pemahaman akan diperoleh melalui penguraian “pemaknaan partisipan” tentang situasi-situasi dan peristiwa-peristiwa. Pemaknaan partisipan meliputi perasaan, keyakinan, ide-ide, pemikiran dan kegiatan dari partisipan (Nana Syaodih: 2005). Secara umum penelitian kualitatif memiliki dua tujuan, yaitu menggambarkan dan mengungkap (to describe and explorer), serta menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). Beberapa definisi dari metode etnografi akan dipaparkan dalam penjelasan di bawah ini.
Studi etnografi (ethnographic studies) mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, kelompok sosial atau sistem. Meskipun makna budaya itu sangat luas, tetapi studi etnografi biasanya dipusatkan pada pola-pola kegiatan, bahasa, kepercayaan, ritual dan cara-cara hidup. Proses penelitian etnografi dilaksanakan di lapangan dalam waktu yang relatif cukup lama, berbentuk observasi dan wawancara secara alamiah dengan cara partisipan dalam berbagai bentuk kesempatan kegiatan, serta mengumpulkan dokumen-dokumen dan benda-benda (Nana Syaodih: 2005) 
Etnografi adalah pendekatan empiris dan teoretis yang bertujuan mendapatkan deskripsi dan analisis mendalam tentang kebudayaan berdasarkan penelitian lapangan (fieldwork) yang intensif. Seorang etnografer memfokuskan perhatiannya pada detil-detil kehidupan lokal dan menghubungkannya dengan proses-proses sosial yang lebih luas.
Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Tujuan utama aktivitas ini adalah untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli, sebagaimana dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski, bahwa tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya. Oleh karena itu penelitian etnografi melibatkan aktivitas belajar mengenai dunia orang yang telah belajar melihat, mendengar, berbicara, berpikir, dan bertindak dengan cara yang berbeda. Jadi etnografi tidak hanya mempelajari masyarakat, tetapi lebih dari itu, etnografi belajar dari masyarakat (Spradley: 2007).
Etnografi adalah suatu bentuk penelitian yang berfokus pada makna sosiologi melalui observasi lapangan tertutup dari fenomena sosiokultural. Biasanya peneliti etnografi memfokuskan penelitiannya pada suatu masyarakat (tidak selalu secara geografis, juga memerhatikan pekerjaan, pengangguran, dan masyarakat lainnya). Hasil akhir penelitian komprehensif etnografi adalah suatu naratif deskriptif yang bersifat menyeluruh disertai interpretasi yang menginterpretasikan seluruh aspek-aspek kehidupan dan mendeskripsikan kompleksitas kehidupan tersebut (Emzir: 2008).
2. Pengumpulan Data Etnografi
Sejak masa awal munculnya penelitian etnografi (abad 19), teknik penelitian etnografi yang utama adalah wawancara yang panjang, berkali-kali, dengan beberapa informan kunci. Teknik tersebut dilakukan karena memang tujuan dari sebuah penelitian etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan membangun struktur budaya dan sosial suatu masyarakat. Akan tetapi, teknik etnografi kemudian berkembang mengikuti tingkat tantangan dan keberagaman masalahnya. Untuk itu pada masa kini sang peneliti tidak cukup hanya melakukan wawancara dengan informan, namun yang lebih penting lagi adalah melakukan observasi sambil berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat tersebut. (Spradley: 2007).
Sejalan dengan pendapat Spradley, Emzir (2008) mengatakan bahwa penelitian etnografi menggunakan tiga macam pengumpulan data: wawancara, observasi, dan dokumen. Setelah tiga macam teknik pengumpulan data tersebut diselesaikan, kemudian akan menghasilkan tiga jenis data, yakni kutipan, uraian, dan kutipan dokumen.
3. Informan sebagai hal utama
Karena menekankan observasi dan wawancara mendalam, seorang peneliti haruslah memahami dan mampu menyiasati teknik-teknik wawancara dengan baik. Hal tersebut harus diperhatikan dengan saksama karena informan adalah seorang manusia yang memiliki karakter dan emosi beragam. Alih-alih sukses melakukan penelitian, malah kegagalan akan diperoleh bila kita mengabaikan peran dari informan dan teknik wawancara yang tepat.
            Informan menurut Spradley (2007) merupakan pembicara asli (native speaker). Oleh etnografer informan diminta untuk berbicara dengan bahasa atau dialeknya sendiri. Informan memberi model dan contoh untuk etnografer. Etnografer ingin belajar menggunakan bahasa asli dengan cara yang ditunjukkan informan. Informan selain sebagai sumber informasi juga menjadi guru bagi etnografer.
            Sebagai seorang manusia biasa yang memiliki rasa dan hati, jangan pernah menyamakan informan dengan pisau belati. Sepatutnya kita memiliki etika ketika berhadapan dengan seorang informan. Gagasan etika tersebut dimunculkan berangkat dari adanya beberapa persoalan historis saat seorang etnografer melakukan penelitian. Maka The American Antropological Association membuat beberapa pedoman bagi seorang etnografer ketika menghadapi informan, yaitu:
  1. pertimbangkan infroman terlebih dahulu;
  2. mengamankan hak-hak, kepentingan, dan sensitivitas informan;
  3. menyampaikan tujuan penelitian;
  4. melindungi privasi informan;
  5. jangan mengeksploitasi informan;
  6. memberikan laporan kepada informan.         
4. Asumsi-asumsi
Beberapa asumsi yang menjadi dasar penelitian etnografi adalah sebagai berikut.
1.        Etnografi mengasumsikan kepentingan penelitian yang prinsip terutama dipengaruhi oleh pemahaman kultural masyarakat. Metodologi secara sungguh-sungguh menjamin bahwa pemahaman kultural umum akan diidentifikasikan untuk kepentingan peneliti di tangan.
2.        Peneliti mampu memahami kelebihan kultural dari masyarakat yang diteliti, meguasai bahasa atau jargon teknis dari kebudayaan tersebut, dan memiliki temuan yang didasarkan pada pengetahuan komprehensif dari budaya tersebut. Terdapat suatu bahasa bahwa peneliti mungkin memasukkan bias terhadap pandangan budayanya sendiri.
3.        Tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangan mengenai dunianya.
5. Etnografi Sebagai Metode
Secara umum, istilah etnografi mengacu pada penelitian sosial yang memiliki karakteristik berikut.
1.        Perilaku manusia dikaji dalam konteks sehari-hari, bukan di bawah kondisi eksperimental yang diciptakan oleh peneliti.
2.        Data dikumpulkan dari suatu rentangan sumber, tetapi observasi dan percakapan yang relatif informal biasanya diutamakan.
3.        Pendekatan untuk pengumpulan data tidak struktur dalam arti tidak melibatkan penggunaan set rencana dan terperinci.
4.        Fokus penelitian biasanya merupakan suatu kelompok dari skala relatif kecil.
5.        Analisis data melibatkan interpretasi arti dan fungsi tindakan manusia dan sebagian besar mengambil format deskripsi verbal dan penjelasan.
6. Siklus Penelitian Etnografi
Emzir (2008), mengatakan prosedur penelitian etnografi bersifat siklus. Prosedur siklus penelitian etnografi mencakup enam langkah. Keenam langkah tersebut masing-masing akan dideskripsikan dengan tambahan pendapat Spradley (2007). 
1.  Pemilihan suatu proyek etnografi. Pada tahap ini kita diharapkan dapat memilih tempat dan tujuan penelitian yang sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.
2. Pengajuan pertanyaan etnografi. Terdapat tiga jenis pertanyaan etnografi, yakni pertanyaan deskriptif, struktural, dan kontras.
3. Pengumpulan data etnografi. Dengan cara observasi partisipan, kita akan mengumpulkan data dari aktivitas mengamati aktivitas orang, karakteristik fisik, dan situasi sosial. Setelah data diperoleh, dimungkinkan untuk mempersempit penelitian dengan mengobservasi ulang. 
4. Pembuatan suatu rekaman etnografi. Pada tahap ini hal yang dapat dilakukan adalah pengambilan catatan lapangan, pengambilan foto, pembuatan peta, dan penggunaan cara-cara lain untuk merekam observasi.
5. Analisis data etnografi. Terdapat tiga jenis analisis yang akan di gambarkan secara umum dalam makalah ini, yaitu, a) analisis domain (mendapatkan gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian, b) taksonomi (menjabarkan domain-domain yang dipilih menjadi rinci), dan c) tema budaya (mencari hubungan di antara domain dan hubungan dengan keseluruhan yang selanjutnya dinyatakan dalam dalam tema-tema sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.   
6. Penulisan sebuah etnografi. Artinya setelah tahapan penelitian diselesaikan maka tugas selanjutnya adalah menuliskan hasil penelitiannya tersebut. Ada enam langkah yang disarankan harus diikuti ketika mulai menuliskan sebuah etnografi:
  1. memilih khalayak
  2. memilih hipotesis
  3. membuat daftar topik dan garis besar
  4. menulis naskah kasar
  5. merevisi garis besar dan anak judul
  6. mengedit naskah kasar

  7. Alur Penelitian Etografi




 

Identifikasi masalah                     Adaptasi                        Rekaman       


                                                              
     Analisis                                           Validasi data                                      Collecting
          

Identifikasi masalah
                                                              Teori/Hasil penelitian



8. Petunjuk Observasi Lapangan
Sebelum seorang etnografer terjun ke lapangan biasanya mereka melakukan hal-hal seperti: mempelajari situasi lapangan, memahami tujuan penelitian, mengetahui keterampilan, minat, dan titik pandang pengamat. Setelah hal-hal tersebut diyakini sudah cukup dikuasai maka seorang etnografer siap terjun ke lapangan dengan memerhatikan beberapa petunjuk umum seperti:
1.    pengambilan catatan lapangan bersifat deskriptif;
2.    kumpulkan suatu variasi informasi dari perspektif berbeda;
3. validasi silang oleh pengumpulan jenis berbeda dari data. Contoh: observasi, wawancara, dokumentasi program, perekaman, dan tipografi;
4. gunakan kutipan dengan menggambarkan program partisipan dalam istilah mereka sendiri. Tangkap pandangan partisipan dari pengalaman mereka sendiri dalam kata-kata mereka sendiri;
5. pilih informan kunci secara bijak dan gunakan mereka secara hati-hati. Gambarkan secara arif tentang pandangan yang disampaikan mereka dan ingatlah bahwa pandangan mereka terbatas.

8. Dokumen Lokasi
Bila diperlukan, seorang etnografer juga perlu untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang bersifat menunjang pemahaman dan informasi penelitian yang sedang dilakukan. Dokumen-dokumen tersebut seperti iklan, deskripsi kerja, laporan tahunan, memo, arsip sekolah, brosur informasi, materi pengajaran, peta, websites, poster, dan dokumen-dokumen lainnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar